Oleh : SP
Aku tinggal di dekat gapura uncen. Kemacetan aku rasakan setiap hari ketika berangkat dan pulang dari kampus. Aku tidak lagi dapat mengeluh, karena tidak ada jalan lain. Aku harus melewati jalan yang Panjang untuk, lalu melewati perempatan setelah gapura, lalu melewati gunung setelahnya. Paling sedikit ada tiga titik kemacetan yang harus aku lewati setiap hari!
Untuk mengurangi rasa kesal melewati kemacetan, aku mengalihkan perhatian ke suasana di sekitar jalan yang kulewati. Aku mengamati perilaku penumpang di dalam angkutan taksi, mengamati berbagai kegiatan di sekitar sepanjang jalan itu, atau mengamati kendaraan-kendaraan yang melintas.
Di antara berbagai situasi yang aku amati, tak pernah sekali pun terlewat olehku untuk mengamati Pak Polisi di persimpangan setelah gapura. Sudah beberapa minggu aku perhatikan, Pak Polisi itu selalu ada. Pagi hari ketika aku berangkat ke kampus, dan di siang terik ketika aku pulang dari kampus. Sosok yang tegap dan gagah, dengan gerak tangan yang tegas.
Pak Polisi mengatur lalu lintas di persimpangan dan menindak tegas setiap pelanggar aturan.
Pernah beberapa kali ketika hujan deras, aku menduga Pak Polisi tidak ada di persimpangan. Ternyata ia tetap ada! Hanya berbalut jas hujan, dan wajah basah terguyur air hujan. Ia pantang menyerah mengatur lalu lintas di persimpangan jalan, yang memang lebih padat ketika hujan. Tak dihiraukannya hujan deras, seperti tak dihiraukannya terik panas matahari ketika hari terang. Pak Polisi itu selalu ada!
Tidak terhitung berapa kali ia berhasil mengurai kemacetan di persimpangan. Tidak terhitung berapa kali ia menindak pelanggar lalu lintas yang membuat kemacetan bertambah parah. Keinginannya hanya satu! Menjaga persimpangan tetap lancar, membuat kendaraan melintas dengan nyaman. Ketika banyak orang hampir menyerah melewati kemacetan di persimpangan, Pak Polisi pantang menyerah! Ia selalu ada di persimpangan jalan, mengatur dan memastikan kenyamanan para pengguna jalan.